Rabu, 12 November 2014

CERPEN Hari Ibu

Tuhan, maafkan ibuku.
Pn: ian mahdi
  malam ini aku tertangkap basah mencuri ayam milik tetanggaku, tetapi ini demi kebaikanku dan kebaikan ibuku. Ya, ibu yang hanya seorang diri alias janda.
  sejak bapak meninggal dulu, kini ibu yang harus menggantikan beliau menjadi tulang punggung keluarga. Ibu hanya seorang pekerja serabutan yang yang profesinya ditentukan oleh musim, saat musim tandur tiba ibu bekerja sebagai petani, saat musim menjelang lebaran ibu bekerja sebagai penjahit dikonveksi membuat busana muslim dan aksesoris lainnya.
  Namun jika musim kosong seperti sekarang ini ibu hanyalah ibu yang tak berpenghasilan, meskipun sebenarnya ibu juga mengajar ngaji anak-anak tetangga sebelah tapi karena bayaran yang diterima ibu hanya seikhlasnya, jadi aku tak bisa berharap lebih.
  Dan disaat saat seperti inilah aku harus pandai bersiasat, karena tak ada yang bisa ibu lakukan, maka setelah pulang sekolah aku bekerja sebagai loper kora. Hasilnya nemang tak seberapa, tapi paling tidak bisa memenuhi kebutuhan uang jajan kami. Ya, aku dan kedua adikku: agus dan ita.
  Ita yang masih duduk bangku TK terkadang mambuatku jengkel, tiap hari kerjanya hanya jajan, jajan dan jajan. Menjadi hal yang tak wajar jika aku marah pada anak kecil yang usianya jauh dibawahku. Sedangkan aku, aku adalah anak SMA yang sebentar lagi menghadapi ujian nasiaonal.
  Rasanya uang dari hasil menjadi loper koran belum cukup untuk melunasi administrasi UN tahun ini yang menurutku nominalnya sangat besar, jadi karena itulah terpaksa aku harus melanggar aturan agama dan negara mulai dari berjudi, mencopet, dan yang terakhir mencuri ayam tetanggaku. Dan benar juga apa kata pepatah:  sepandai-pandainya tupai melompat pasti jatuh juga, dan itulah yang menimpaku saat ini, aku pulang kerumah dengan langkah terpogoh-pogoh dan memar biru disekujur wajah.
  Malam ini aku tak berani mengetuk pintu dan membangunkan ibuku, aku malu atas perbuatanku aku berharap agar ibu tak tahu apa yang telah diperbuat anaknya malam ini. tapi ternyata tidak, sebaliknya ibu sudah menantiku diruang tamu.
  "tak seperti biasanya kau pulang tanpa mengetuk pintu dan mengucapkan salam." tanya Ibu.
  "maaf bu... Assalamualaikum,"
ku dengar ibu menjawab salamku dengan lirih.
  "mengapa kamu pulang larut, nak?" tanya Ibu sambil membenahi kerudungnya.
  "iya Bu... aku malam ini lembur." jawabku sambil merunduk.
  "memang apa yang kamu kerjakan, nak?, astaghfirullah..! wajahmu kenapa?"
  "aku terjatuh dari sepeda motor,bu." bohong aku.
  "adi, sejak kapan ibu mengajarimu untuk tidak berkata jujur. Ibu tahu kalau kamu pasti berbohong, jawablah pertanyaan Ibu dengan jujur, nak..." cecar ibuku.
  "maafkan aku bu, aku baru saja ketahuan mencuri ayam milik pak juki bu."
  "untuk apa nak?! kamu tahu kan mencuri itukan perbuatan terlarang."
  "iya bu... aku tahu itu, tapi apa yang aku lakukan ini demi kehidupan kita".
  Ibu hanya terdiam, aku juga melihat pipi ibu yang basah oleh air mata. Tanpa sepatah kata ibu langsung memunggungiku dan masuk ke dalam kamarnya. Aku tahu betapa sedih perasaan ibu malam ini melihat tingkah anakya yang sangat tak pantas untuk dilakukan, "maafkan aku ibu".
  Tetapi aku yakin ibu pasti mengerti bahwa apa yang aku lakukan ini karena terpaksa dan himpitan ekonomi yang sangat menekan. Apalagi ini sudah akhir bulan itu berarti ibu sedang bingung harus kemana lagi meminjam uang untuk membayar sewa kontrak rumah. ya, rumah yang kami tinggali ini bukan milik kami pribadi, ini adalah rumah kontrak yang tiap bulan harus kami bayar sewanya.
  Pagi harinya aku berangkat sekolah dengan wajah yang masih lebam dan ditemani skuter tua peninggalan bapak, kendaraan tak mewah tapi sangat bermanfaat bagiku. Belum saja sampai di sekolah mungkin karena kurang konsentrasi tak sengaja aku menyerempet seorang wanita, kelihatannya ia hendak berangkat ke kantor.
  "ma..maaf mbak, mbak enggak kenapa, kan?" tanyaku dengan gugup.
  "oh iya, saya tidak kenapa-napa kok. salah saya yang berjalan terlalu menengah"
   Sebenarnya aku juga jatuh dan terluka tapi sengaja aku menutup-nutupinya. Sebelum melanjutkan pejalanan dia sempat menanyakan nama dan tempat sekolahku lalu kujawab dengan senang hati.
  Sampai di sekolah berarti sampai juga aku di tempat yang akan membuatku malu, apalagi jika waktu istirahat tiba, hampir semua temanku pasti membicarakan masalah gadget dan aku hanya bisa menjadi pendengar karna tak ada yang bisa aku bicarakan.
  Bagiku punya handphon tuit - tuit saja sudah untung, jadi biarlah mungkin punya gadget canggih hanya mimpi indah bagiku.
  Seperti biasa, setelah bel pulang sekolah berbunyi aku selalu dipanggil pak kepala sekolah. Bukan karena keonaran yang aku lakukan disekolah tapi karna SPP berbulan- bulan yang belum aku bayarkan.
  Saking seringnya aku dipanggil pak kepsek hingga aku tak perlu lagi menunggu akupun datang ke ruang TU. Sambil berjalan menyusuri lobi ruang kelas aku terus menyusun kata- kata agar alasanku belum bisa membayar SPP kali ini lebih dipercaya petugas TU.
   "Assalamu alaikum, pak."
Kebetulan yang sedang bertugas pak irwan, aku kenal baik dengannya jadi tak perlu gerogi.
  "Wa alaikum salam... ada apa, di?" Jawabnya dengan santun.
  "Begini, pak. Soal administrasi SPP dan UN saya ingin meminta waktu lagi karna saya belum bisa melunasinya hari ini." Ungkapku sedikit merunduk.
  "Oh... apa maksudmu dengan administrasi. Bukankah kamu sudah melunasinya semua?."
  Aku bingung dengan apa yang dikatakan pak irwan. Sambil tersenyum ia menyodorkan selembar bukti kuitansi.
  "Memang siapa pak yang melunasinya?" Tanyaku dengan heran.
  "Jadi kamu belum tahu?!, bapak juga tidak kenal siapa dia. Bapak kira dia kakakmu."
  "Hahh... kakak?. Aku ini anak pertama pak." Tegasku
  "Yang pasti dia itu seorang perempuan, dan tadi jika bapak perhatikan penampilannya sedikit glamor."
  Aku jadi penasaran sebenarnya siapa perempuan itu, berpenampilan sedikit glamor yang rela melunasi administrasi SPP dan UNku. Ah, tapi biarlah siapapun dia yang pasti dia perempuan yang baik dan aku sangat berterima kasih padanya.
  Setalah pulang sekolah dan sampai di rumah aku sangat terkejut dengan apa yang terjadi di kamarku, sebuah leptop keren sudah mejeng diatas meja belajarku. "Ada apa dengan hari ini?" Bertanyaku dalam hati, semuanya begitu indah, mulai dari administrasiku disekolah hingga leptop canggih semuanya seperti mimpi.
Karna asik bermain leptop hingga aku lupa dengan ibu, ya.. ibu pasti tahu dengan semua ini. Setelah menemui ibu di dapur aku langsung bertanya.
  "Ibu.. darimana leptop itu, bu?"
  "sudahlah nak terima saja itu rejeki dari Allah." Jawabnya tanpa menghadapku karna sedang memasak.
  Selama ini aku selalu di didik untuk berhusnudzon terhadap sesuatu, jadi kupikir mungkin tanpa sepengetahuanku ibu ikut arisan dengan para tetangga hingga mampu membelikanku leptop.
  Seminggu berlalu semenjak ibuku membelikanku leptop. Akhir-akhir ini aku merasa ada yang berbeda dengan kebiasaan dan penampilan ibu.
Ibu yang selama ini tak pernah pulang malam kini ia lebih sering pulang malam, ibu yang dulu tak pernah berdandan kecuali saat kondangan kini tiap hari ia berdandan. Munggkin menurutku ini adalah sikap yang dilakukan oleh perempuan yang mulai beranjak tak muda lagi, namun kelamaan prilaku ibu yang seperti ini makin membuatku penasaran sebenarnya ada apa dengan ibu.
  Kebetulan sore ini aku sedang tak ada pekerjaan dan aku barniat untuk mengikuti ibu. Setelah ibu mengurus adik-adiku, ibu keluar dan diam-diam aku mulai mengintai ibu. Awalnya aku mengira bahwa ibu sedang ada pekerjaan di konveksi tapi apakah harus berdandan semolek ini jika hanya untuk pergi ke konveksi.
  Terus dan terus aku mengikuti ibu, mulai terjadi lagi keanehan ketika ibu naik angkot padahal jarak antara rumahku dengan konveksi tempat ibu biasa bekerja itu dekat, tak perlu naik kendaraan hanya dengan berjalan kaki saja sampai.
  Aku pun terus memperhatikan angkot yang dinaiki ibu dari angkot lain, hingga akhirnya angkot yang dinaiki ibu berhenti dan memuntahkan penumpangnya di pinggir stasiun yang biasa disebut orang di kotaku dengan sebutan bongkaran. Ibu lalu turun dan berjalan menuju tempat yang terdengar sangat bising dengan suara musik khas diskotik
  Dari kejauhan aku terus mengintai ibu, aku sangat tak menduga apa yang terjadi saat itu, ibuku dikelilingi para lelaki bak roti yang dikerumuni lalat. Ada yang menciumi ibu ada juga yang dengan kurang ajar memeluk ibu.
Ku lihat juga disebelah ibu ada wanita yang sedang menghitung uang, dan sungguh takku sangka ternyata wanita itu adalah wanita yang beberapa waktu lalu pernah aku celakai saat hendak berangkat ke sekolah. Jadi administrasi sekolah itu?, laptop itu... ?
  Seandainya almarhum bapak melihat apa yang dilakukan istrinya saat ini dia pasti sangat kecewa.
Jakarta, 071014

Jumat, 24 Oktober 2014

kado sederhana untuk keagamaan 20

sesuai janji yang dulu pernah aku bilang, aku bakal nge-post tulisan tentang makna perpisahan menurut stigma pribadi kalian. nggak ada maksud apa-apa aku nulis blog ini selain agar perpisahan yang mungkin menyisahkan perih bisa sedikit terobati.

perpisahan: suatu hal yang terjadi akibat adanya pertemuan. (rizza)

perpisahan: suatu kebahagiaan yang menyedihkan dalam kesedihan yang membahagiakan. (dzikron)

perpisahan: ujung dari sebuah pertemuan dan keindahan yang terabaikan. (shiddiq)

perpisahan: siapa berani berpisah?. (adib)

perpisahan: pahit saat dirasakan manis saat dibayangkan. (bagus)

perpisahan: jembatan penghubung antara sebuah pertemuan dan ingatan akan masa lalu. (sofyan)

perpisahan: satu dari banyak kata yang saya benci. (akyas)

perpisahan: aku tidak mau berpisah. (akrom)

perpisahan: kata pisah yang berawalan per dan berakhiran an. (kholis)

perpisahan: bukan akhir dari segalanya, tapi awal dari sebuah kerinduan abadi. (ridlo)

perpisahan: reuni (falah)

perpisahan: jalan setapak yang harus dilalui. (susanto)

perpisahan: sebuah moment dimana tak ada seorangpun menginginkan moment tersebut. (malik)

perpisahan: saat dimana tak ada lagi kebiasaan seperti biasanya. (hafidz)

perpisahan: akhir dari segalanya, awal menuju langkah yang akan dilalui. (faza)

perpisahan: langkah awal untuk menapaki alur maju yang membahagiakan, atau counter attack untuk menuju                   perubahan. ( yusril arzaq)
perpisahan: waktu dimana kita dididik untuk lebih sabar. (lukman)

perpisahan: lembah antara dua bukit. (widad)

perpisahan: lawan kata (antonim) dari pertemuan. (khulwan)

perpisahan: tidak bertemu sesaat. (hamam)

perpisahan: pertemuan yang tertunda. (rifqi)

perpisahan: sungguh kata yang menyedihkan, akhir dari kebersamaan, tapi awal dari kemandirian. (yusril                         afkar)

perpisahan: sungguh kata yang menyakitkan, namun juga suatu keharusan yang harus dilalui. (hanan)


       *maaf mungkin buat kalian yang merasa belum ngasih pendapat, nanti bisa lewat komentar kok.


Rabu, 05 Maret 2014

Ttd : HATI

JAUH

tiada aku menjauh hanya untuk memikirkanmu
diamku terus memanggil dikau
deritaku untuk kau jelita
pijarku anggun nan indah

Dawai mana yang tak rikuh
aku pun begitu 
seperti ini kata hatiku
"hai aku merindumu"

GELAP

Aku menanti

diantara gelap
dan cahaya suram
berpaling dari kebahagiaan
kini aku riang

Aku menanti

bukannya asa
memang sedikit berdosa
hati ini tak peduli

Aku menanti

pada sehelai daun
langkah ini bertanya